Oleh : Nita Juniati
Pagi hari yang sudah dihiasi dengan rintik-rintik hujan,
membuat ku semakin tertidur nyenyak. Sepertinya diatas mataku terdapat tumpukan
batu-batu besar, berat dan sulit sekali untuk dibuka. Kembali ku tarik selimut,
dan mencari posisi tidur yang tepat. Hujan pagi ini seakan membawa ku
menari-nari dalam dunia kemalasan, seperti tidak ada tugas yang menanti ku hari ini.
“Regi!”
teriakan ibu yang selalu menjadi pembuka setiap pagi dalam keseharian ku. “Regita ayo cepat bangun, anak gadis jam sembilan pagi
belum bangun! Mau jadi apa kamu? Ayo cepat bangun!” teriakan ibu yang
semakin keras ditelinga, sambil menarik selimut ku.
Terbangunlah
aku dari dunia kemalasan, dan aku bergegas kekamar mandi. Akhirnya semua
nyawa sudah terkumpul, aku membuat segelas teh manis dan membawanya ke
kursi depan rumah. Duduk manis memandangi tanaman di halaman depan
rumah yang basah karena hujan, “selamat pagi” sapa ku tak tertuju.
Kini waktu nya bermain bersama pulpen dan buku catatan kecil, membuat
perencanaan untuk tugas liputan siang nanti.
Aku Regita, salah
seorang mahasiswi di Universitas Negeri terkemuka di Kota Bandung. Dan aku
mengambil jurusan jurnalistik, sehingga salah satu tugas yang harus ku
kerjakan yaitu tugas liputan. Karena hari ini tidak ada kuliah, jadi ku
manfaatkan waktunya untuk mengerjakan tugas liputan. Biasanya jika
ada tugas liputan aku mengerjakan bersama-sama dengan teman, tapi kali
ini aku akan mencoba mengerjakannya sendirian. Dan pastinya aku bisa, rencananya aku akan meliputan kuliner Bandung. Aku segera
mempersiapkan perlengkapan yang harus ku bawa seperti camera, pulpen,
dan buku catatan.
Perjalanan pun ku mulai, dengan tujuan utama
mendatangi tempat-tempat jajanan yang unik dan menarik. Setiabudi
menjadi incaran pertama ku, karena ada suatu hal yang membuat ku
tertarik dengan kuliner di Setiabudi. Mewawancarai pemilik dan pegawai
setiap tempat jajanan yang kudatangi, selain itu tak lupa aku pun
mewawancarai para pelanggan yang datang ke tempat jajanan tersebut.
Kurang lebih tiga tempat jajanan yang menjadi sasaran tugas liputan ku,
cukup melelahkan dan menantang keberanian ketika akan mewawancarai orang
yang sebelumnya sama sekali tidak ku kenal. Keberanian menjadi salah
satu modal seorang jurnalis.
Setelah berjam-jam
mengerjakan tugas liputan rasanya cukup melelahkan, kebetulan disebrang
sana ada warung yang menjual beragam minuman dan ku putuskan untuk
sekedar beristirahat di warung itu. Seorang pelayan menghampiri ku “mau
pesen apa teh manis?” tanya nya sopan kepada ku “oh enggak, jus sirsak
ada?” jawabku sambil mencari tempat duduk yang kosong. “Dibungkus atau
diminum disini?” tanya nya kembali sambil mengikuti ku “disini aja
segelas yah” jawabku sambil duduk di kursi yang sudah ku dapatkan.
“Segelas
aja teh manis?” tanya nya kembali kepada ku. Aku hanya tersenyum
kebingungan, apa barusan aku lupa mengatakan tidak memesan teh manis.
Tak lama kemudian pelayan yang tadi pun kembali menghampiri sambil
membawa pesanan ku, dan yang dia bawa benar-benar segelas jus sirsak
bukan segelas teh manis, ntah lah kebingungan ku belum terjawab. Tanpa
pikir panjang ku bayar saja jus nya, dan pelayan itu berkata
“terimakasih teteh manis”.
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !