Oleh : Nita Juniati
Saat-saat resah dan gelisah menanti sebuah kehadiran seorang bayi. Kedua orangtua ku berharap hadir seorang bayi laki-laki, tetapi kehendak Sang Pencipta lain dengan keinginan kedua orang tua ku. ketika itu tepat tanggal 09 juni 1993 lahirlah seorang bayi manis, berjenis kelamin wanita, dan itu adalah aku Nita Juniati. Aku adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, kedua kakak ku perempuan. Walaupun keinginan orangtua ku tidak terkabul, mereka tetap menyayangi dan mengasihi ku. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda bahwa mereka kecewa dengan kehadiranku ditengah-tengah mereka.
Aku tetap diperlakukan wajar selayaknya wanita, karena banyak orangtua yang memperlakukan anaknya secara tidak wajar. Contohnya orangtua yang menginginkan anak perempuan tetapi ketika lahir adalah anak laki-laki, mereka memperlakukan anak nya seperti anak perempuan. Memakaikan aksesoris-aksesoris wanita pada anak laki-laki nya. Tetapi tidak dengan kedua orangtua ku, mereka tetap membelikan pakaian-pakain perempuan, dan mengajariku banyak hal tentang perempuan. Kehadiranku ketika itu sempat membuat kakak-kakak ku iri, karena ibu dan ayah lebih memperhatikan aku. Tentu saja ibu dan ayah lebih perhatian pada ku, karena posisi ketika itu aku adalah seorang bayi yang membutuhkan kehangatan dan kasihsayang orangtua.
Saat-saat resah dan gelisah menanti sebuah kehadiran seorang bayi. Kedua orangtua ku berharap hadir seorang bayi laki-laki, tetapi kehendak Sang Pencipta lain dengan keinginan kedua orang tua ku. ketika itu tepat tanggal 09 juni 1993 lahirlah seorang bayi manis, berjenis kelamin wanita, dan itu adalah aku Nita Juniati. Aku adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, kedua kakak ku perempuan. Walaupun keinginan orangtua ku tidak terkabul, mereka tetap menyayangi dan mengasihi ku. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda bahwa mereka kecewa dengan kehadiranku ditengah-tengah mereka.
Aku tetap diperlakukan wajar selayaknya wanita, karena banyak orangtua yang memperlakukan anaknya secara tidak wajar. Contohnya orangtua yang menginginkan anak perempuan tetapi ketika lahir adalah anak laki-laki, mereka memperlakukan anak nya seperti anak perempuan. Memakaikan aksesoris-aksesoris wanita pada anak laki-laki nya. Tetapi tidak dengan kedua orangtua ku, mereka tetap membelikan pakaian-pakain perempuan, dan mengajariku banyak hal tentang perempuan. Kehadiranku ketika itu sempat membuat kakak-kakak ku iri, karena ibu dan ayah lebih memperhatikan aku. Tentu saja ibu dan ayah lebih perhatian pada ku, karena posisi ketika itu aku adalah seorang bayi yang membutuhkan kehangatan dan kasihsayang orangtua.
Dari
segi fisik aku dan kedua kakak ku tidak terlalu jauh, hanya saja warna kulit
yang berbeda. Kedua kakakku kulitnya lebih cerah dibandingkan dengan aku.
Terkadang aku selalu bertanya-tanya mengapa aku memiliki kulit yang gelap sendiri
sedangkan kakak ku, mereka memiliki kulit yang lebih cerah. Sempat terpikir
dalam benakku, bahwa aku bukan anak kandung ibu dan ayah. Akan tetapi ibu dan
ayah selalu memotivasi, mereka selalu bilang kelak ketika aku tumbuh besar,
aku akan mengerti mengapa ada perbedaan warna kulit.
Dan sempat ibu bercerita pada ku, katanya ketika aku bayi ayah pernah salah memberikan obat. Seharusnya obat yang ayah berikan adalah obat batuk, tetapi karena penglihatan ayah yang kurang jeli aku malah diberikan obat gandapura (semacam minyak angin). Ketika itu aku berpikir, karena obat gandapura itu panas maka membakar kulitku menjadi gelap. Padahal itu bukan penyebabnya, ketika aku belajar biologi tentang teori Mendel. Disitu dijelaskan tentang gen-gen yang ada di dalam tubuh manusia. Setelah aku mengerti dan memahami materi itu aku membuat kesimpulan mengapa kulitku berwarna gelap, karena mungkin ayah atau ibu memiliki gen warna kulit yang resesif sehingga terlahirlah aku yang memiliki warna kulit gelap dibandingkan dengan kedua kakak ku.
Dan sempat ibu bercerita pada ku, katanya ketika aku bayi ayah pernah salah memberikan obat. Seharusnya obat yang ayah berikan adalah obat batuk, tetapi karena penglihatan ayah yang kurang jeli aku malah diberikan obat gandapura (semacam minyak angin). Ketika itu aku berpikir, karena obat gandapura itu panas maka membakar kulitku menjadi gelap. Padahal itu bukan penyebabnya, ketika aku belajar biologi tentang teori Mendel. Disitu dijelaskan tentang gen-gen yang ada di dalam tubuh manusia. Setelah aku mengerti dan memahami materi itu aku membuat kesimpulan mengapa kulitku berwarna gelap, karena mungkin ayah atau ibu memiliki gen warna kulit yang resesif sehingga terlahirlah aku yang memiliki warna kulit gelap dibandingkan dengan kedua kakak ku.
Seringkali aku tidak percaya diri, dengan
kulitku yang gelap, dengan wajah yang tidak secantik kakak-kakak ku. Awal rasa tidak percaya diri timbul ketika kedua kakak ku sering mengejek dan mengatakan
semua kejelekan ku. Dan
sempat beberapa kali aku mendengar kata-kata dari orang lain seperti
teman-teman kakak, saudara-saudara, dan tetangga, katanya aku berbeda dengan
kedua kakak ku. Sakit sekali dalam hati ketika mendengar hal itu. Semakin
sering dan semakin banyak orang yang mengejeku, semakin aku terus merasa tidak
percaya diri dan semakin membuatku tertutup.
Seiring waktu yang terus berputar, dan
semakin banyak pelajaran juga motivasi. Sedikit demi sedikit aku belajar untuk
membuka diri dan belajar merasa percaya diri, ku coba untuk merubah sebuah
kekurangan ku menjadi sebuah kelebihan. Belajar dan terus belajar memotivasi diri,
dan mensyukuri apa yang telah Allah SWT berikan.
0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !